Latest Post

Lautan Ilmu

Written By Arif Stiawan on December 28, 2015 | 2:21 AM

Lautan Ilmu


Hukum Menjual Voucher/Kupon Belanja

Posted: 27 Dec 2015 02:44 PM PST

Hukum Voucher Belanja

Menjual Voucher Belanja

❓ Pertanyaan :

Assalamualaikum Warohmatulloh …Ustad Mau tanya perihal Muamalah,
Misal ada orang yg menjual voucher belanja bernilai 50000 rupiah tapi di jual dengan hrga dibawahnya misal 40000 voucher tsb hanya berlaku untuk dibelanjakan di tempat yg sudah di tetapkan apakah hal ini dibolehkan atau voucher tersebut harus dibeli dengan nilai yg sama. Jazakallahu khoiron dari Fauzi – Timika

📌 Jawaban :

Untuk ahkuna fauzi di timika barokallahu fik….tentang pertanyaan antum sedikitnya ada dua masalah yg harus didampaikan : Hukum menerima voucher belanja dan Hukum menjualnya.

(1). Maka kita katakan hukum menerima voucher belanja adalah boleh kalau tidak diniatkan dalam belanjanya ini untuk mendapatkan voucher.

(2). Dan voucher sendiri hukumnya ada khilaf dikalangan para ulama apakah termasuk alat tukar karena bisa di belanjakan dengan berbagai macam kebutuhan walaupun disyaratkan harus di toko tersebut/tertentu. Ataukah bukan sebagai alat tukar

(3). pendapat pertama vocher belanja adalahberupa alat tukar dan yg berlaku nilanya mata uang rupiah maka ketika dijual denagn rupiah haruslah terpenuhi 2 syarat yaitu tamatsul (sama nominalnya) dan Taqabud (kontan) agar terhindar dari riba.

(4) Pendapat kedua bahwa voecher bukanlah sebagai alat tukar, tapi kalau mau di qiyas kan lebih dekat kepada akad salam, yaitu uang di berikan di muka dan barang di terima kemudian.

Seperti misalnya seseorang nyimpan uang di warung satu juta, untuk supaya anak dan istrinya ngambil barang sembako tiap hari sampai pas totalnya satu juta , jadi uang duluan barang belakangan ini akad salam namanya.

(5). Pendapat kedua lebih kuat insya Allah, disini kita tidak bawakan dalil akan bolehnya karena hukum ashal didalam muamalah adalah boleh sehingga ada pelarangannya.

Wallahu a’lam.

✒️ Abu Ghozie As-Sundawie.

Tambahan: untuk menguatkan bahwa voucher belanja bukan alat tukar seperti uang rupiah adalah kalau kita minta tukar dengan uang ke pihak perusahaan yg mengeluarkannya (super market) maka mereka menolak bahkan harus dibelanjakan barang di supermarket tsbut,

Lautan Ilmu

Written By Arif Stiawan on October 17, 2015 | 3:30 AM

Lautan Ilmu


ANTARA KALENDER HIJRIYAH DAN MASEHI

Posted: 16 Oct 2015 05:59 PM PDT

ANTARA KALENDER HIJRIYAH DAN MASEHI

Kalender perhitungan yang Allâh sebutkan di dalam Kitab-Nya yang mulia adalah perhitungan yang tepat yang tidak akan berbeda sepanjang tahun, yaitu perhitunganQomariyah.

Di dalam firman Allâh Ta'âlâ :

وَلَبِثُوا فِي كَهْفِهِمْ ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا

"Dan mereka mendiami gua tersebut selama tiga tahun ditambah Sembilan (tahun lagi)" (QS al-Kahfi : 25)

Sebagian ulama menyebutkan bahwa jumlah 300 tahun itu adalah perhitungan Syamilah sedangkan jumlah 309 tahun itu adalah perhitungan Qomariyah!

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn menyanggah pendapat ini dan menjelaskan di dalam sanggahannya bahwa perhitungan di sisi Allâh Ta'âlâ itu hanyalah perhitungan Qomariyah bukan Syamsiyah.

Syaikh Muhammad bin Shâlih al-'Utsaimîn rahimahullâhu berkata :

"Firman Allâh Ta'âla : "Ditambah 9 tahun lagi" maksudnya 300 tahun ditambah dengan 9 tahun. Jadi, mereka tinggal di gua selama 309 tahun lamanya.

Mungkin akan ada yang bertanya : "Kenapa tidak langsung saja disebut 309 tahun?"

Maka kita jawab : Tidak ada bedanya ucapan ini dan itu, akan tetapi al-Qur'ân yang agung ini adalah kitab yang paling tinggi sastranya. Agar selaras dengan ritme setiap ayat, Allah berfirman "ثَلَاثَ مِئَةٍ سِنِينَ وَازْدَادُوا تِسْعًا".

Tidak sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian orang bahwa 300 tahun itu adalah berdasarkan kalender Syamsiyah, dan ditambah 9 tahun berdasarkan Qomariyah. Sesungguhnya tidaklah mungkin bagi kita mempersaksikan bahwa Allâh menghendaki hal ini! Siapa gerangan yang mempersaksikan bahwa Allâh menghendaki makna ini?! Sekalipun apabila 300 tahun Syamsiyah itu mencocoki 309 tahun Qomariyah, tetap tidak mungkin kita mempersaksikan hal ini kepada Allâh, karena perhitungan di sisi Allâh itu hanyalah satu!

(Jika ada yang bertanya) : Apa tanda-tanda yang digunakan untuk perhitungan di sisi Allâh?

Kita jawab : Tandanya adalah hilâl (bulan sabit).

Karena itulah kita katakan bahwa pendapat yang menyatakan 300 tahun itu Syamsiyah dan tambahan 9 tahun itu Qomariyah, adalah pendapat yang lemah.

(Dengan alasan), Pertama : Tidak mungkin bagi kita mempersaksikan bahwa Allâh yang menghendaki hal ini.

Kedua : bahwa perhitungan bulan dan tahun di sisi Allâh adalah dengan hilâl (bulan sabit). Allâh Ta'âlâ berfirman :

هو الذي جعل الشمس ضياء والقمر نوراً وقدره منازل لتعلموا عدد السنين والحساب

"Dialah Allâh yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta ditetapkan oleh-Nya manzilah-manzilah (orbit peredaran) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)" (QS Yûnus: 5)

( يسئلونك عن الأهلة قل هي مواقيت للناس والحج

"Mereka bertanya kepadamu tentang Hilâl (bulan sabit). Katakanlah (Wahai Muhammad) "Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan haji" (QS. Al-Baqarah: 189)
[Ceramah Syaikh Ibnu 'Utsaimîn tentang Tafsîr Surat al-Kahfi]

Perhitungan dengan bulan dan hilâl (bulan sabit) sudah dikenal oleh para Nabi dan kaum mereka, sedangkan perhitungan dengan matahari (Syamsiyah) tidaklah dikenal kecuali oleh orang-orang pandir penganut agama-agama (kafir). Namun ironisnya, mayoritas kaum muslimin saat ini banyak yang mencocoki mereka.
HUBUNGAN KALENDER SYAMSIYAH DENGAN AGAMA PAGAN

Bahwa ada keterkaitan perhitungan Syamsiyah ini yang berangkat dari sistem perhitungan yang diwariskan kaum Paganisme (Watsaniyah), yang tidak pernah dianggap oleh para Nabi 'alaihim ash-Sholâtu was Salâm. Sesungguhnya perhitungan yang dianggap oleh syariat hanyalah perhitungan berdasarkan bulan dan hilâl, dan perhitungan ini adalah yang paling tepat dan cermat.

Diantara dalil yang menunjukkan bahwa perhitunganQomariyah ini yang telah dikenal di dalam syariat para Nabi, adalah hadits Wâtsilah bin al-Asqa' radhiyallâhu 'anhu yang mengatakan bahwa Nabi Shallallâhu 'alaihi wa Salam bersabda :

أُنْزِلَتْ صُحُفُ ‏‏إِبْرَاهِيمَ ‏عَلَيْهِ السَّلَام ‏‏فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ ، وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

"Suhuf Ibrâhîm 'alaihis Salâm diturunkan pada permulaan malam Ramadhan, Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan, Injil diturunkan pada hari ke-13 bulan Ramadhan dan al-Furqân (yaitu al-Qur'ân) diturunkan pada malam ke-24 Ramadhan." [HR Ahmad IV/107 dan al-Baihaqî dalam "as-Sunan" IX/188, dan sanadnya hasan. Syaikh al-Albânî menyebutkannya dalam "ash-Shahîhah" 1575].

Hal ini (yaitu waktu turunnya kitab suci di hadits tersebut di atas) tidak dapat diketahui kecuali apabila perhitungan menggunakan bulan dan hilâl.

Yang juga menunjukkan akan hal ini adalah hadits yang dikeluarkan di dalam 2 Kitab Shahîh (Shahîhain) dari Ibnu 'Abbâs radhiyallâhu 'anhumâ, beliau berkata :

قَدِمَ النَّبِيُّ ‏صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ‏الْمَدِينَةَ ‏فَرَأَى ‏‏الْيَهُودَ ‏‏تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ :‏ ‏مَا هَذَا ؟ قَالُوا : هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ ‏‏بَنِي إِسْرَائِيلَ ‏‏مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ ‏‏مُوسَى … الحديث

"Nabi Shallallâhu 'alaihi wa Sallam tiba di kota Madinah, dan beliau melihat kaum Yahudi sedang berpuasa di hari 'Asyura, lalu beliau bertanya : "Hari apa ini?", mereka (kaum Yahudi) menjawab : "ini hari yang baik. Di hari ini Allâh menyelamatkan Bani Isra'il dari musuh mereka dan hari berpuasanya Musa."." [HR Bukhârî : 2004 dan Muslim : 1130]

Al-Hâfizh (Ibnu Hajar) rahimahulâhu juga menyatakan secara tegas bahwa mereka (bangsa Yahudi) tidak menganggap perhitungan Syamsiyah. [Lihat "al-Fath" IV/291 dan VII/323].

Ibnul Qoyyim rahimahullâhu berkata mengomentari firman Allâh Ta'âlâ :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ

"Dialah Allâh yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya serta ditetapkan oleh-Nya manzilah-manzilah (orbit peredaran) bagi perjalanan bulan itu" (QS Yûnus: 5)

Dan juga firman-Nya :

وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ . وَالْقَمَرَ قَدَّرْنَاهُ مَنَازِلَ حَتَّى عَادَ كَالْعُرْجُونِ الْقَدِيمِ

"Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua".(QS. Yâsin: 38-39)

Beliau mengatakan :

ولذلك كان الحساب القمري أشهر وأعرف عند الأمم وأبعد من الغلط ، وأصح للضبط من الحساب الشمسي ، ويشترك فيه الناس دون الحساب ، ولهذا قال تعالى : ( وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ) يونس/5 ولم يقل ذلك في الشمس ، ولهذا كانت أشهر الحج والصوم والأعياد ومواسم الإسلام إنما هي على حساب القمر وسيره حكمة من الله ورحمة وحفظا لدينه لاشتراك الناس في هذا الحساب ، وتعذر الغلط والخطأ فيه ، فلا يدخل في الدين من الاختلاف والتخليط ما دخل في دين أهل الكتاب

"Karena itulah perhitungan Qomariyah itu lebih populer dan dikenal oleh banyak umat dan lebih jauh dari kesalahan serta lebih benar dalam detailnya daripada perhitungan Syamsiyah dimana orang-orang menggunakannya tanpa perlu melakukan perhitungan. Lantaran itulah Allâh Ta'âla berfirman : "serta ditetapkan oleh-Nya manzilah-manzilah (orbit peredaran) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu)" (QS Yûnus: 5), dan tidak disebutkan hal yang sama pada matahari.

Dengan demikian, penentuan bulan-bulan haji, puasa, hari-hari besar (îd) dan perayaan Islam hanyalah berdasarkan pada perhitungan bulan dan peredarannya, sebagai hikmah dari Allâh, rahmat dan penjagaan terhadap agama-Nya, dimana banyak manusia yang mengikuti perhitungan ini, yang terbebas dari kesalahan dan kekeliruan di dalamnya. Sehingga tidak masuk ke dalam agama adanya perselisihan dan pertikaian sebagaimana yang masuk ke dalam agama ahli kitab." [Miftâh Dâr as-Sa'âdah hal. 538-539]

Bisa jadi yang difahami dari ucapan terakhir Ibnul Qoyyimrahimahullâhu di atas, bahwa ahli kitab bersandar pada perhitungan Syamsiyah, dan hal ini telah dinyatakan secara terang oleh al-Hâfizh Ibnu Hajar rahimahullâhu di dalam tanggapan beliau setelah beliau menisbatkannya kepada Ibnul Qoyyim. [Lihat al-Fath VII/323].

Sedangkan kenyataannya, syariat mereka awalnya tidak mengakuinya (yaitu mengakui perhitungan Syamsiyah), dan hal ini terjadi kepada mereka lantaran orang-orang bodoh mereka. [selesai]

Diantara faidah firman Allâh Ta'alâ :

يسئلونك عن الأهلة

"Mereka bertanya tentang bulan sabit…"

Syaikh Ibnu 'Utsaimîn rahimahullâhu mengatakan :

ومنها : أن ميقات الأمم كلها الميقات الذي وضعه الله لهم – وهو الأهلة – فهو الميقات العالمي ؛ لقوله تعالى : ( مواقيت للناس ) ؛ وأما ما حدث أخيراً من التوقيت بالأشهر الإفرنجية : فلا أصل له من محسوس ، ولا معقول ، ولا مشروع ؛ ولهذا تجد بعض الشهور ثمانية وعشرين يوماً ، وبعضها ثلاثين يوماً ، وبعضها واحداً وثلاثين يوماً ، من غير أن يكون سبب معلوم أوجب هذا الفرق ؛ ثم إنه ليس لهذه الأشهر علامة حسيَّة يرجع الناس إليها في تحديد أوقاتهم ، بخلاف الأشهر الهلاليَّة فإن لها علامة حسيَّة يعرفها كل أحدٍ

"Diantara faidahnya adalah, bahwa standar waktu seluruh umat adalah standar waktu yang telah Allâh tentukan bagi mereka, yaitu hilâl (bulan sabit) yang merupakan standar universal, berdasarkan firman Allâh Ta'âla : (مواقيت للناس) "Sebagai tanda-tanda waktu bagi manusia".

Adapun fenomena akhir-akhir ini yang menjadikan standar waktu dengan bulan kalender Eropa, maka ini tidak ada asalnya baik secara inderawi, rasio dan syariat. Karena itulah Anda dapati sebagian bulan (Masehi) itu ada yang 28 hari, sebagiannya 30 hari dan sebagiannya lagi 31 hari, tanpa diketahui secara pasti sebab perbedaan ini. Kemudian juga, pada kalender Masehi ini tidak ada tanda-tanda inderawi yang manusia dapat merujuk kepadanya untuk menentukan waktu mereka, berbeda dengan kalender berdasarkan bulan, yang mana ada tanda yang bisa diindera sehingga dapat diketahui setiap orang. (yaitu bisa melihat bentuk-bentuk bulan). [Pengajian Tafsîr al-Baqoroh II/371].

Al-Qurthûbî rahimahullâhu berkata saat mengomentari firman Allâh Ta'âla :

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ

"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi…". (QS. at Taubah: 36)

Beliau berkata :

هذه الآية تدل على أن الواجب تعليق الأحكام في العبادات وغيرها إنما يكون بالشهور والسنين التي تعرفها العرب دون الشهور التي تعتبرها العجم والروم والقبط وإن لم تزد على اثني عشر شهراً ؛ لأنها مختلفة الأعداد ، منها ما يزيد على ثلاثين ، ومنها ما ينقص ، وشهور العرب لا تزيد على ثلاثين وإن كان منها ما ينقص ، والذي ينقص ليس يتعين له شهر وإنما تفاوتها في النقصان والتمام على حسب اختلاف سير القمر في البروج

"Ayat ini menunjukkan bahwa wajib mengaitkan hukum-hukum ibadah dan selainnya hanya dengan perhitungan bulan dan tahun yang diketahui oleh bangsa Arab, bukan dengan perhitungan bulan yang digunakan oleh bangsa 'ajam (non Arab), Romawi dan Qibthî, walaupun tidak lebih dari 12 bulan. Karena bilangan harinya berbeda-beda, ada yang lebih dari 30 hari dan ada yang kurang. Sedangkan bulan-bulan bangsa Arab tidak akan lebih dari 30 hari walaupun bisa kurang darinya (yaitu 29 hari). Hari yang kurang (dari 30) tidak dapat ditentukan, karena perubahan kurang dan pas 30 hari itu berdasarkan perbedaan peredaran bulan pada orbitnya." [Tafsîr ath-Thobarî VIII/133].

Wallâhu a'lam.

***

Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad

Sumber : http://islamqa.info/ar/69741

 

Sumber: Group Whatsapp Al wasithiyah wal i’tidal

Lautan Ilmu

Written By Arif Stiawan on October 16, 2015 | 3:08 AM

Lautan Ilmu


Hukum Aqiqah Ketika Anak Sudah Besar

Posted: 15 Oct 2015 06:35 PM PDT

📚 AQIQAH KETIKA ANAK SUDAH BESAR

❓ Pertanyaan :

Assalaamu’alaikum, ustadz mau tanya tentang aqiqah, bisa kah aqiqah dilaksanakan untuk anak yg sudah besar ? Dan bagaimana pelaksanaan aqiqah secara syar’i ? Jazakallah khair. (Dari Ali mashudi di jakarta timur).

📌 Jawaban :

Barokallahu fik untuk akhuna Ali Mashudi di Jakarta, semoga istiqamah selalu. Memang masalah ini sering ditanyakan yaitu tentang boleh ataukah tidak boleh anak diaqiqahi setelah besar, atau beraqiqah untuk diri kita sendiri setelah kita dewasa. Sebelum menjawab pertanyaan maka ada baiknya kita jelaskan dulu walau secara skngkat tentang aqiqah dan hukum-hukum yang terkait tentang nya.

Maka atas izin Allah Ta’ala kita katakan bahwa Aqiqah adalah hewan yg disembelih karena kelahiran anak sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

Dari Samurah bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “seorang anak tergadai dengan aqiqahnya, sembelihkanlah (aqiqah) atasnya pada hari ke 7 (dari kelahirannya) , diberi nama dan di cukur rambut kepalanya”. HR Tirmidzi : 1522, Abu Dawud : 2837).

Maksud tergadai adalah sebagaimana perkataan Atha bin Abi Rabah dan Imam Ahmad bin Hanbal, Tergadai yakni Terhalang untuk memberikan syafa’at kepada kedua orang tuannya, jika ia meninggal diwaktu kecil dan belum diaqiqahi. Secara singkat saya paparkan fiqih yg terkait aqiqah.

(1). Hukum Aqiqah.

Ada khilaf dikalangan para ulama, antara yg mengatakan wajib dan sunnah muakkadah. (Saya tidak bahas pendalilan dari masing-masing pendapat mengingat terbatasnya media kita ini)

Kita kuatkan pendapat yg hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yg ditekankan pelaksanaannya). Dan ini pendapat jumhur Ulama dari kalangan para sahabat, Tabi’in dan ahli fiqih. Ini juga pendapat para ulama kalngan madzhab Syafi’i, Maliki, dan merupakan pendapat terkuat dari kalangan madzhab Hanbali.

Imam Malik berkata, “Aqiqah itu hukumnya tidak wajib akan tetapi mustahab/ dianjurkan untuk dikerjakan. Ia merupakan amalan yg tdak pernah ditinggalkan oleh manusia, menurut kami “. (Kiyab Al-Muwatha : 1072).

Imam Ahmad pernah ditanya tentang aqiqah apakah wajib ? Maka jawabnya tidak wajib, akan tetapi barangsiapa yg ingin menyembelih, hendaklah ia menyembelih.

(2). Pihak yg dibebani Aqiqah.

Pihak yg berkewajiban melaksanakan aqiqah adalah ayah yg mendapatkan anugrah kelahiran anak, atau orang yg menanggung nafkah anak yg dilahirkan tsbt.

Dalilnya Rasulullah shalallahu alaihi wasallam mengatakan, ” Barang siapa dilahirkan anak baginya (maksudnya bapak nya anak) maka jika ia ingin menyembelih (aqiqah untuk anaknya) maka hendaklah ia menyembelih”. (HR Abu Dawud : 2842).

(3). Jumlah hewan aqiqah.

Anak laki-laki dua ekor kambing, sedangkan untuk anak perempuan 1 ekor saja.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan mereka agar ber aqiqah, untuk bayi laki-laki dua ekor kambing yg sepadan, dan bagi bayi perempuan 1 ekor kambing”. (HR Ahmad dan Tirmidzi : 1513).

Oleh karena itu kata para ulama, “perempuan itu ukurannya separoh dari laki-laki dalam 5 hal : yaitu dalam harta warits, dalam diyat pembunuhan, dalam persaksian, dalam aqiqah dan dalam pemerdekaan budak”. (Mukhtashar al fiqhi al islami : 690).
(4). Waktu pelaksanaan Aqiqah.

Disunahkan pada hari ketujuh dari hari kelahirannya. Dan hari lahirnya dihitung satu, maka kalau anak lahir hari senin misalnya, berarti aqiqahnya hari ahad. Kalau hari ke 7 tdak sempat maka hari ke-14, kalu tdk juga maka hari ke-21, atau kapan pun.

Catatan : pergantian hari didalam islam bukan jam 12.00 malam, tapi bergantinya hari apabila datang waktu maghrib, atau tenggelamnya matahari.

Maka kalau anak lahir hari senin sebelum maghrib maka anak tersebut dihitung lahir hari senin, berarti aqiqahnya hari minggu. Tapi kalau anak lahir hari senin ba’da maghrib maka anak tersebut dianggap lahir hari selasa, itu berarti aqiqahnya hari senin, perhatikanlah !

Dari Buraidah, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Aqiqah disembelihkan pada hari ke 7 atau ke 14 atau ke 21”. (HR Tirmidzi 4/1522).

Namun ada diantara para ulama seperti syaikh Shalih Al-Fauzan dan Syaikh Ibnu Utsaimin yg berpendapat bolehnya selain dari 3 waktu yg disebutkan oleh Hadits diatas tanpa batasan, sehingga ketika pada waktu2 trsebut orang tua belum mampu aqiqah, boleh ia melakukannya ketika ada kelapangan.

Dalam sebuah fatwanya Lajnah Daaimah (komite tetap majlis Fatwa Saudi Arabia) mengatakan : “apabila memang kondisinya seperti yang dikatakan (yaitu pada saat waktu anak lahir ia belum mampu untuk melakukan aqiqah, lalu ketika anak2nya sudah pada besar2 baru Allah beri kelapngan rejeki), maka aqiqahlah untuk anak2nya bagi yg laki2 masing2 dua ekor kambing”. (Fatwa Lajnah Daaimah 11/441).
(5). Bacaan ketika menyembelih aqiqah.

Baca Bismillah sebagaimana sembelihan-sembelihan yg lain, dan ada bacaan tambahan kalau mau dibaca yaitu :

BISMILLAHI WALLAHU AKBAR, ALLAHUMMA MINKA WA LAKA, HADZIHI ‘AQIQATU ………(sebutkan nama bayi).

Atau mengucapkan :

BISMILLAHI WALLAHU AKBAR, ALLAHUMMA LAKA WA ILAIKA, HADZIHI ‘AQIQATU……….(sebutkan nama bayi). (HR Al-Baihaqi juz 9 / 19077).

(6). Aqiqah untuk diri sendiri setelah dewasa karena ktka kecilnya belum di aqiqahi.

Ini termasuk masalah yg diperselisihkan oleh para ulama. Dan perselisihan ini terjadi karena mereka berselisih tentang keabsahan Hadits yg menetapkan adanya aqiqah setelah dewasa, dimana hadits itu bunyinya :

عن انس رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم عقد عن نفسه بعد النبوة

“Dari Anas bin Malim, bahwasanya Nabi shalallahu alaihi wasallam aqiqah untuk dirinya setelah kenabian (diangkat menjadi Nabi)”. (HR Abdurrazaaq, Al-Mushanif 4/329 no hdits. 7960).

Ulama yg mendha’ifkan Hadits ini : Imam Ahmad, Al-Bazaar, Al-Baihaqi, An-Nawawie, Ibnu Abdil Hadi, Ibnu Mulaqqin, Syaikh Bin Baaz rahimahumullah (dan jarah atau celaan para ulama terhadap Hadits ini ada yang dengan celaan : munkar, bathil, lemah sekali, dll disebabkan ada Rawi bernama Abdullah hin Al Muharrar).

Ulama yg menshahihkan tepatnya meng hasankan hadits ini adalah Al-‘alaamah Al-Albani rahimahullah didalam As-Shahihah : 2726 setelah membahasnya panjang lebar.

Maka kita katakan ulama terbagi kepada 2 pendapat dalam masalah ini :

Pendapat pertama :

Dianjurkan aqiqah setelah dewasa bagi yg pada masa kecilnya belum di aqiqahi. Ini pendapat Atho, Al-Hasan Bashri, Ibnu Sirin. Dan Syaikh Al-Albani cenderung dgan pendapat ini. Dalilnya adalah Hadiys Anas diatas yg diperselisihkan keabsahannya.

Bahkan shaikh Bin Baaz sendiri walaupun beliau melemahkan hadits Anas diatas bahkan sampai mengatakan hadits lemah atau palsu (majmu’ Fatawa 26/267), beliau termasuk yg berpendapat dianjurkan aqiqah untu diri sendiri yg belum diaqiqahi ktka kecil, karena ia sunnah muakkadah, maka apabila orang tua tdak aqiqah untuknya ktika kecil dianjufkan aqiqah untuk dirinya sendiri kalau mampu, hal ini berdasrkan keumuman riwayat perintah aqiqah. ( Majmu’ Fatawa bin Baaz 26/266).

Pendapat kedua :

Tidak ada anjuran untuk aqiqah terhadap diri sendiri. Inilah pendapatnya para ulama dari kalangan Madzhab Malikiyyah, ia adalah riwayat dari Imam Ahmad, “Bahwa di Madinah tidak dikenal aqiqah untuk diri sendiri.

Pendapat ini berdalil, bahwa kewajiaban Aqiqah itu adalah tanggung jawab orang tua, bukan anak. Maka anak tidak ada kewajiban untuk mengaqiqahi dirinua tatkala ia dewasa.
Dan mereka pun menyatakan sebagai bantahan kepada pendapat pertama, bahwa Hadits yg dijadikan dalil adalah hadits yg tidak shahih. Atau kalupun mau dianggap shahih pun maka dibawa kepada pemahaman bahwa perkara itu khususiyyah (kekhususan ) Nabi.

Syaikh Shalih Al-Fauzan hafidzahullah, salah seorang anggota majlis fatwa periode sekarang mengatakan didalam Fatwanya, ” Tidak disyari’atkan bagi seseorang beraqiqah untuk dirinya, ketika belum diaqiqahi oleh irang tuanya dahulu, karena aqiqah itu adalah sunah yg jadi tanggunb jawab orang tua dan bukan tanggung jawab anak”.

Mungkin inilah diantara pendapat yg menentramkan hati, Wallahu a’lam.

(Bahasan ini Banyak mengambil Faedah dari kitab Jaami’ul Ahkamil ‘Aqiqah, Muhammad Nashr Abu Jabal)

✒️ Abu Ghozie As-Sundawie.

Sumber: Grup WA Al-Wasithiyah Wal I’tidal

Lautan Ilmu

Written By Arif Stiawan on October 4, 2015 | 3:06 AM

Lautan Ilmu


Cara berdakwah

Posted: 03 Oct 2015 06:19 AM PDT

DAKWAH

oleh Ustadz Syafiq ibn Riza ibn Hasan ibn Abdul Qadir Basalamah

 بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Akhi / ukhti,  salâmullôh 'alaikum…
Berdakwah menyampaikan agama الله adalah suatu kewajiban yang agung dan mulia…
Bahkan para pendakwah adalah kekasih pilihan الله…
Kita diperintahkan untuk menyampaikan agama الله pada setiap manusia…
Kepada mereka yang di pasar, di mall, di masjid, di lapangan, di jalanan…
Seorang pendakwah seyogyanya mendatangi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah…
Sebagaimana Nabi صلى الله عليه و سلم mendatangi majelis-majelis orang kâfir pada waktu Beliau berdakwah…

Ada yang berucap "ilmu itu didatangi, bukan datang kepadamu"…
Na'am, bagi seorang penuntut ilmu seyogyanya ia yang mendatangin para ustadz dan 'ulama untuk menimba ilmu dari mereka…
Sebaliknya, sebagai seorang pendakwah, seharusnya ia mendatangi orang-orang yang menjadi sasaran dakwah…
Para pendakwah seharusnya mendatangi orang-orang yang berada di pedalaman, di pegunungan, sebagaimana mendatangi mereka di kota-kota… di perkantoran… di rumah-rumah… di mana ada ruang untuk menyampaikan agama الله… ia tidak boleh menyia-nyiakannya…!
Karena medan dakwah terlalu besar dan tantangan begitu dahsyatnya dengan jumlah penduduk yang tembus 230 juta…
Maka para pendakwah harus berbagi tugas…
Sebagian bergerak di dunia pendidikan…
Formal dan non-formal…

Ada yang tingkat dasar dan ada yg tingkat atas…
Ada yang gratis…
Ada yang murah…
Ada yang sedang…
Ada yang mahal banget dan tidak wajar untuk sebuah Pesantren Islâm…

Pada hakekatnya, perbedaan itu bukan masalah…
Karena yang didakwahi memang berbeda…
Ada yang maunya formal, maka kita pun bikin yang formal…
Ada yang mau bagus dengan fasilitas tinggi, kita pun membuatnya…
Semuanya sedang berdakwah dengan segment yang beda…
Ada yang berdakwah lewat kajian-kajian…
Ada yang mau bikin kajian di perusahaannya untuk karyawannya, kita pun datang kepada mereka…
Ada yang bikin kajian khusus untuk keluarga di rumahnya, kita pun menyambutnya…
Ada yang bikin kajian khusus untuk anak-anak remaja, kita juga tidak membiarkannya…
Ada yang bikin seminar di kampus-kampus untuk mendakwahi para akademisi…
Ada yang membuat kajian khusus untuk para dokter di rumah sakit, kita pun bersegera mengiyakannya…

Ada yang bikin dauroh khusus untuk para ustadz di vila atau hotel dengan pemateri masyaikh kibar dari luar Indonesia, pesertanya terbatas dan pendaftarannya ketat, bukan karena ingin membatasi ilmu bagi penuntut ilmu yang lainnya, tapi ada maslahat dan target yang diburu…
Ada yang bikin kajian buat anak-anak yatim dan janda-janda tua, kita tidak menolaknya…
Ada yang membuat di musholla sebelah rumahnya, kita pun juga tidak meremehkannya…
Ada yang membuat kajian khusus para ummahat dengan tema dan kitab yang bermacam-macam, kita pun tidak sungkan untuk menghadirinya…
Ada yang fokus berdakwah di daerah pedalaman dan membendung kristenisasi, kita pun memberikan apresiasi yang besar kepada mereka…

Ada yang berdakwah lewat media, televisi, dan radio dengan segment yang berbeda-beda…
Terkadang ada yang bertanya kenapa ada beberapa televisi Ahlus-Sunnah, kenapa tidak hanya satu saja…?
Itulah hikmah dalam berdakwah, sasaran dakwahnya berjumlahnya 230 juta dengan berbagai kecenderungan dan level pendidikan yang berbeda-beda…
Ada yang berdakwah lewat tulisan dengan menerbitkan buku-buku yang dijual dengan harga variatif
Ada yang harganya mahal dengan kertas dan sampul buku yang lux, sehingga tidak bisa membelinya kecuali orang yang berdompet tebal…
Ada yang dengan harga standar dengan kertas yang biasa…
Semua dengan segmen yang berbeda-beda karena yang didakwahi memang beragam, bukan satu macam…
Ada yang berdakwah dengan membuat travel umroh dan hajji dengan harga yang disesuaikan dengan keinginan jama'ah…
Ada yang standar bintang 5 sehingga membuat jema'ah terbelalak melihat harganya…
Kenapa kok tidak 1 harga saja…?
Kan tujuannya adalah ibadah, thowaf dan sa'inya di tempat yang sama, kenapa harus pilih-pilih kamar dan membeda-bedakan jemaah…?
Tapi itulah salah satu hikmah dalam berdakwah, yang jadi sasaran memang mereka yang biasa tinggal di hotel bintang 5, kita tidak bisa memaksa mereka untuk ikut paket murah, dengan dalih tidak boleh boros dan berlebih-lebihan…

Ada yang melihat peluang mendakwahi orang-orang yang biasa berlibur di vila-vila mewah atau hotel-hotel berbintang, yang setiap pekan memadati jalan ke puncak, tanpa ada yang menyentuh liburan mereka dengan siraman rohani, maka sebagian ikhwan kita berpikir bagaimana liburan akhir pekan mereka lebih bermanfaat…
Semua sedang berdakwah dengan cara dan metodenya…

Nabi صلى الله عليه و سلم tidak pernah meremehkan siapa pun untuk di dakwahi…
Baik yang kaya, miskin, badui, atau orang kota, semuanya Beliau dakwahi…
Beliau tidak pernah membuang kesempatan dan peluang untuk berdakwah, walaupun celaan dan tuduhan keji sering beliau dapatkan…

Sungguh الله memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk berdakwah dengan hikmah, sebagaimana firman-Nya:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

(arti) "Serulah (manusia) kepada jalan Robb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Robb-mu, Dia lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya, dan Dia lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." [QS an-Nahl (16) ayat 125].

Di antara makna hikmah adalah memperlakukan tiap manusia sesuai dengan kondisinya, oleh karena itu, Nabi صلى الله عليه و سلم memperlakukan setiap ragam manusia sesuai dengan kedudukan dan karakternya…

Bahkan Beliau berpesan:
إِذَا أَتَاكُمْ كَرِيْمُ قَوْمٍ فَأَكْرِمُوْهُ
(arti) "Apabila datang kepadamu yang mulia dari suatu kaum, maka muliakanlah ia." [Shohîh Sunan Ibnu Mâjah II/303 no 2991 ~ hasan].

▶️ Yang suka kehormatan, Beliau kasih kehormatan, seperti kisah Abû Sufyan…
Ibnu Abbâs رضي الله عنهما berkata: "Tatkala penaklukan kota Makkah maka Abbâs ibn 'Abdil Muththolib membawa Abû Sufyan ibn Harb, maka Abû Sufyan pun masuk Islâm di Marru ad-Zhorôn (nama suatu tempat dekat Makkah -pen). Maka Abbas berkata kepada Nabi: 'Wahai Rosûlullôh, sesungguhnya Abû Sufyan adalah seseorang yang suka kemuliaan, kalau seandainya engkau memberikan sesuatu untuknya?' Maka Nabi berkata: 'Iya, barang siapa yang masuk ke rumah Abû Sufyan maka ia aman, dan barang siapa yang menutup pintunya maka ia aman.'" [lihat: HR Abû Dâwûd no 3023 ~ dihasankan oleh Syaikh al-Albânî].

▶️ Yang suka harta, Beliau kasih harta, seperti kisah 'Amru ibn Taghlib…
'Amru ibn Taghlib bercerita: "Sesungguhnya Rosûlullôh pernah diberi harta atau tawanan, kemudian Beliau membagikannya, lantas Beliau memberikan sebahagian orang dan meninggalkan sebahagian orang. Maka orang-orang yang ditinggalkan (yang tidak diberi) mencela keputusan Rosûlullôh itu. Kemudian Rosûlullôh memuji الله, setelah itu Beliau berkata: 'Maka demi الله, sesungguhnya aku telah memberi sebahagian dan telah meninggalkan sebahagian, dan orang-orang yang kutinggalkan itu lebih aku cintai daripada orang-orang yang kuberi. Akan tetapi aku memberi kaum yang aku melihat di hatinya masih ada kecemasan dan kekalutan, dan aku membiarkan kaum lain kepada apa yang dijadikan الله pada hati-hati mereka berupa kekayaan dan kebaikan, di antara mereka adalah 'Amru ibn Taghlib.' (Kemudian berkata 'Amru ibn Taghlib) Maka demi الله, tidaklah ada yang melebihi kecintaanku pada unta merah kecuali ucapan Rosûlullôh kepadaku tadi." [lihat: HR al-Bukhôrî no 871].

▶️ Yang memiliki iman kuat, maka Beliau berbagi cintanya kepada mereka, seperti kisah orang orang Anshor…
Imâm Muslim meriwayatkan, bahwa (Anas ibn Mâlik) berkata: "Ketika Makkah telah ditaklukkan, Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم membagi-bagikan harta rampasan kepada orang-orang Quraisy. Maka orang-orang Anshor pun berujar: 'Ini sungguh-sungguh mengherankan. Pedang kita masih basah oleh darah musuh, tetapi harta rampasan kita diberikan kepada mereka (orang-orang Quraisy)?' Lalu ungkapan itu sampai kepada Rosûlullôh صلى الله عليه و سلم, akhirnya Beliau pun mengumpulkan mereka. Beliau bertanya: 'Benarkah berita yang sampai kepadaku tentang ucapan kalian?' Mereka menjawab: 'Apa yang mereka sampaikan itu benar, ya Rosûlullôh! Mereka tidak berdusta.' Maka Nabi صلى الله عليه و سلم bersabda: 'Apakah kalian tidak rela kalau mereka pulang dengan membawa harta benda Dunia, sedangkan kalian semua pulang ke rumah masing-masing bersama dengan Rosûlullôh? Seandainya manusia berjalan di suatu lembah dan bukit, sedangkan orang-orang Anshor melewati lembah dan bukit yang lain, niscaya saya akan mengikuti lembah dan bukit yang ditempuh kaum Anshor.'"
Sikap berbeda Nabi صلى الله عليه و سلم kadang dipandang negative oleh sebahagian Shohâbat, namun setelah Beliau jelaskan bahwa manusia itu berbeda-beda dan cara menghadapinya juga berbeda… akhirnya mereka paham…

▶️ Yang bodoh dan tidak mengerti, Beliau tidak langsung menegur dan memarahinya, seperti ketika ada Badui yang masuk ke dalam masjid lalu kencing, tentunya berbeda dengan sikap para Shohâbat yang ingin memukul dan memberi pelajaran kepadanya.

Itulah salah satu makna hikmah dalam berdakwah…
Semua pendakwah Ahlus-Sunnah harus bersinergi demi tercapainya cita-cita bersama…
Yang di pedalaman tidak perlu mencela da'i-da'i kota yang bergelimang harta…
Yang di musholla tidak perlu mencaci da'i-da'i yang muncul di televisi…
Yang di daerah tidak perlu menuduh da'i-da'i yang harga bukunya mahal dan tidak terjangkau..
Yang di kota juga tidak boleh melupakan saudara-saudara mereka yang di pedalaman, pedesaan, pegunungan yang mereka sedang menyelamatkan aqidah ummat dari taring dan cakar missionaris…
Semua sedang berdakwah, dan hendaklah berhusnuzhon kepada saudaranya…
Dan ingat AGAMA INI ADALAH NASEHAT…!

Bila muncul kekeliruan dan kesalahan ataupun penyimpangan, maka para da'i harus saling memberikan masukan dan nasehat…

Kita adalah saudara…

Di samping itu, setiap pendakwah tidak boleh lupa berterima kasih kepada para koordinator dakwah tempat di mana ia berdakwah, bahwa ia bisa duduk nyaman di atas kursi dengan mic yang sudah bisa dipakai, dan jama'ah yang duduk rapi, parkir kendaraan yang diatur, serta semua kenyamanan yang dirasakannya, semua itu adalah hasil tangan orang banyak… kalau bukan karena mereka, tentunya setelah taufiq الله, niscaya para pendakwah akan mendapatkan berbagai kesulitan…

Untuk semua…
PERBAIKI NIAT
RAPATKAN SHOFF
BERGANDENGAN TANGAN
SALING MENDO'AKAN
ALLÔHU AKBAR

Bila yang aku tulis ini benar, maka itu karena taufiq الله…
Bila salah dan kurang berkenan, maka itu dari diriku yg penuh dosa dan dari Syaithôn…

الله & ROSÛL-NYA terbebaskan dari kesalahan itu…

Salamku.
وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله و صحبه أجمعين

»»•««

Repost by :
Group WA Iqra Sunnah
📱 Admin: WA : +62811890xxxx

Sumber: Group WA

 

Lautan Ilmu

Written By Arif Stiawan on October 3, 2015 | 3:17 AM

Lautan Ilmu


Potret Nyata Negeri Yang Diberkahi

Posted: 02 Oct 2015 07:22 PM PDT

WAQFAH 01
Aan Chandra Thalib

Potret Nyata Negeri Yang Diberkahi.

Selama mendampingi Syaikh Anis Thahir di Indonesia, ada beberapa kejadian kadang membuat saya tersenyum bila mengingatnya
Diantaranya saat akan memasuki jalan tol, syaikh bertanya, “Kenapa kita harus bayar..? Bukankah jalan ini fasilitas umum..?
selanjutnya setiap kali meninggalkan tempat pemberhentian/parkir, syaikh lagi-lagi bertanya mengapa harus bayar..? Bukankah ini tempat umum..?
Saya hanya diam dan tersenyum.
Syaikh lalu berkata, “Puji syukur kepada Allah, zakat dan shadaqoh telah membebaskan kami dari semua pungutan ini”.

Alhamdulillah..
Bagi orang yang pernah bermuqim di KSA pastinya akan takjub dengan berbagai nikmat yang Allah limpahkan terhadap negeri ini.
Di negeri ini, kita bisa menikmati jalan bebas hambatan tanpa pungutan, kitapun bisa memarkir mobil dimana saja tanpa ada pungutan.

Di negeri ini, pajak tidak diberlakukan, listrik dan air bersih disubsidi pemerintah, kesehatan dan pendidikan 100% ditanggung negara. Negara bahkan memberikan uang saku bagi pelajar pada tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Di negeri ini, harga air minum kemasan jauh lebih mahal dari BBM.
I botol air kemasan 600 ml harganya SR 1,00 = Rp 3800. Sedangkan 1 L Bensin harganya 50 halalah atau setengah reyal. Buah dan sayurpun terbilang murah.

Setiap ramadhan tiba, tak terhitung jumlah dermawan yang membagikan makan gratis, begitu juga di musim haji.

Selain nikmat materi, adalagi nikmat yang mungkin akan sulit kita dapatkan di tempat lain. Yaitu nikmat keamanan
Disini, kenderaan dibiarkan pemiliknya terparkir diluar rumah tanpa penjaga.
Bahkan anda bisa memanaskan mobil dan meninggalkannya begitu saja tanpa ada rasa takut di ambil orang.

Bila adzan tiba semua menuju tempat adzan dikumandangkan, sebagian pedagang menutup dagangannya hanya dengan kain seadanya tanpa takut kemalingan.

Di sini… Barang yang ketinggalan di taxi/mobil tumpangan masih bisa kembali. Banyak kisah yang pernah dialami teman-teman soal ini. Kamipun pernah beberapa kali mengalaminya. Waktu itu dalam perjalanan menuju masjid nabawi hp dan tas uang kami tertinggal di naql (mobil tumpangan) milik seorang badui. Tahun itu adalah tahun pertama kami di Madinah.
Saya sempat cemas bukan kepalang, mengingat di hp tersebut tersimpan nomor-nomor penting serta catatan harian kami.
Tapi masyaallah…
Rupanya pada hari itu, setiap selesai sholat pemilik naql itu berdiri pintu no 8 masjid nabawi. Iya, pintu no 8 adalah pintu yang biasa dilalui mahasiswa UIM. Pemilik naql itu melihat satu persatu mahasiswa yang keluar.
Saat kami keluar, tiba-tiba ada yang menepuk bahu kami dari belakang. “Ya akhi… Kemana saja, Sejak tadi saya berdiri disini menunggu anda, ini hp dan tas anda yang ketinggalan di mobil saya tadi, – ucapnya dengan dielek badui yang khas-. Setelah menyerahkan hp dan tas iapun berlalu masuk dalam kerumunan orang banyak yang baru saja keluar dari masjid nabawi.

Pernah juga -untuk kesekian kalinya- tas saya tertinggal di naql. Alhamdulillah pemilik naql menitipkannya pada salah seorang teman, -seingat kami pemilik naql itu menitipkannya kepada Ustadz Ahmad Syakir hafidzohullah-. Jazahumullah khoiron.

Maha benar Allah yang telah berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَاتٍ مِّنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ.
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi”

Begitulah..
Keberkahan akan membuat negeri yang tandus menjadi surga bagi penduduknya. Sebaliknya, negeri yang hijau akan berubah bak neraka bagi penduduknya, bila keberkahan diangkat dari negeri tersebut.

وَلَٰكِن كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُم بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (Al-A'raf: 96)

Hatiku berguman…
“Indonesia juga bisa..
Setidaknya harapan itu masih ada.. Insyaallah..
Mari kita mulai dari Bab Akidah…”

Catatan:
Perlu disadari bahwa penduduk negeri ini bukan malaikat. Sehingga wajar bila masih ada kekurangan di sana sini. Apalagi dengan semakin bertambahnya jumlah imigran di KSA setidaknya telah mempengaruhi pertumbuhan kriminal di negeri ini. Meskipun demikian angka kriminal masih terbilang kecil dibanding di negara-negara lain.

Wallahu a’lam
____________
Madinah 18 Dzulhijjah 1436 H
ACT El-Gharantaly

Sumber: Group Whatsapp

Hukum Mengaminkan Do’a Khotib dan Mengucapkan Shalawat Apabila Sang Khotib Meyebut Nama Rasulullah

Posted: 02 Oct 2015 04:58 AM PDT

MENJAWAB TANYA

~Hukum Mengaminkan Do’a Khotib dan Mengucapkan Shalawat Apabila Sang Khotib Meyebut Nama Rasulullah~

Pertanyaan:

Bolehkah mengaminkan do’a Khotib pada saat khutbah jum’at dan mengucapkan sholawat apabila sang khotib menyebut nama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-..?

Jawaban:

Pertanyaan ini pernah diajukan kepada Syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad sebanyak 3 kali pada 3 kesempatan yang berbeda. Beliau menjawab, ” Tidak apa-apa mengaminkan do’a Khatib dan Mengucapkan sholawat kepada Rasulullah apabila khotib menyebut nama Rasulullah -shallallahu alaihi wasallam-, bahkan demikianlah seharusnya. Adapun hadits yang melarang berbicara pada saat khutbah, ini berlaku apabila pembicaraan tersebut diluar konteks khutbah, seperti membicarakan urusan duniawi dll. Maksudnya perkataan tersebut tidak ada kaitannya dengan khutbah.

Wallahu a’lam

Catatan:

Memang terjadi silang pendapat dikalangan ulama terkait permasaalahan ini. Perbedaan tersebut berangkat dari apakah berbicara saat khotib sedang menyampaikan khutbah hukumnya haram atau tidak…?

Kalangan Syafi'iyah dan sebagian ulama dari kalangan Hanabilah menilai bahwa berbicara pada saat khutbah tidak mutlak haram. Karena makmum dibolehkan mengaminkan doa khotib dengan jahr. Lihat penjelasan Imam Ibnu Muflih dalam Al-Furu’ dan Imam Al-Mardawy dalam Al-Inshaf

Sementara ulama yang mengharamkan berbicara pada saat khutbah, mereka mengecualikan Ta’min (ucapan amin) makmum terhadap khotib dengan catatan bacaan tersebut sir (pelan), tidak dikeraskan apalagi diucapkan secara berjamaah. Pendapat inilah yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Utsaimin dan guru kami Syaikh Muhammad bin Muhammad Al-Mukhtar As-Syinqity serta ulama lainnya.
Bahkan di dalam al-ikhtiyarot Syaikhul Islam mengatakan perbuatan tersebut termasuk sunnah. Inilah pendapat yang lebih kuat insyaallah.

Jika ditanya mana dalilnya..? maka jawabannya adalah,

“Mengaminkan doa hukum asalnya sunnah, begitu juga dengan mengucapkan sholawat. Sehingga dalil umum yang melarang berbicara saat khutbah jumat dikecualikan oleh dua dalil khusus tersebut.

Wallahu a’lam.

Terkait mengangkat tangan pada saat khotib sedang memanjatkan do’a, maka hal ini tidak disyariatkan baik bagi khotib maupun makmum, sebab Rasulullah -shallahu alaihi wasallam- hanya memberi isyarat dengan jari telunjuk beliau pada saat berdo’a. Akan tetapi hukum ini dikecualikan pada saat istisqo.

Wallahu a’lam

________________
Madinah 18 Dzulqo’dah 1436 H
ACT El-Gharantaly

Sumber: Group WA

 
Support : www.ariefboy.com
Copyright © 2013. Arif Setiawan | AriefBoy.Com - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger